cerpen singkat tentang sekolah
Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Antara Mimpi dan Realita di Balik Papan Tulis
Judul: Aroma Kapur dan Debu Mimpi
Kelas XII IPA 1 bergemuruh. Bukan karena pelajaran kimia yang sedang berlangsung, melainkan bisik-bisik tentang pengumuman kelulusan yang tinggal menghitung hari. Di antara riuhnya suara, duduklah Rina, seorang gadis yang lebih suka tenggelam dalam buku daripada ikut bergosip. Buku yang dibacanya kali ini bukan buku pelajaran, melainkan kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono.
Rina bukan siswa yang menonjol secara akademis. Nilainya standar, cenderung pas-pasan. Tapi, dia punya mimpi besar: menjadi seorang penulis. Mimpi itu ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya, takut dicibir teman-temannya yang lebih fokus pada persiapan masuk perguruan tinggi negeri favorit.
Di bangku depannya, duduklah Budi, si jenius matematika. Budi adalah kebanggaan sekolah, langganan juara olimpiade. Semua guru memujinya, semua teman mengaguminya. Budi bercita-cita menjadi insinyur, mengikuti jejak ayahnya. Ia sudah diterima di universitas ternama di Bandung, impian banyak siswa.
Namun, dibalik kecerdasannya, Budi menyimpan kegelisahan. Ia tidak benar-benar mencintai matematika. Ia lebih suka melukis, menuangkan imajinasinya ke atas kanvas. Sayangnya, ayahnya tidak setuju. Menurut ayahnya, melukis bukanlah profesi yang menjanjikan masa depan. Budi terpaksa mengubur mimpinya, demi membahagiakan orang tuanya.
Bel istirahat berbunyi. Rina beranjak dari tempat duduknya dan menuju perpustakaan. Perpustakaan adalah tempat pelariannya. Di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi, ia merasa aman dan nyaman. Di sana, ia bisa membaca, menulis, dan bermimpi tanpa gangguan.
Di perpustakaan, ia bertemu dengan Pak Hasan, penjaga perpustakaan yang sudah bekerja di sekolah itu selama lebih dari 20 tahun. Pak Hasan adalah sosok yang bijaksana dan ramah. Ia selalu menyambut Rina dengan senyum hangat.
“Sedang membaca apa, Rina?” tanya Pak Hasan sambil membersihkan debu dari rak buku.
“Kumpulan puisi, Pak,” jawab Rina sambil menunjukkan bukunya.
“Kamu suka sekali membaca puisi, ya?” kata Pak Hasan.
“Iya, Pak. Saya ingin menjadi penulis,” jawab Rina dengan malu-malu.
Pak Hasan tersenyum. “Itu mimpi yang bagus, Rina. Jangan pernah menyerah pada mimpi-mimpimu. Dunia ini membutuhkan orang-orang seperti kamu, orang-orang yang berani bermimpi dan mewujudkannya.”
Kata-kata Pak Hasan menyentuh hati Rina. Ia merasa mendapatkan dukungan yang selama ini ia cari.
Di sisi lain sekolah, Budi sedang duduk di kantin bersama teman-temannya. Mereka sedang membicarakan rencana setelah lulus sekolah. Budi hanya diam mendengarkan, pikirannya melayang jauh. Ia membayangkan dirinya sedang berdiri di depan kanvas, memegang kuas, dan melukis pemandangan yang indah.
“Budi, kamu kenapa diam saja?” tanya salah seorang temannya.
“Tidak apa-apa,” jawab Budi singkat.
“Kamu pasti sudah tidak sabar ya untuk kuliah di Bandung?” tanya temannya lagi.
Budi mengangguk, meskipun hatinya bergejolak. Ia merasa seperti seorang aktor yang sedang memainkan peran yang bukan dirinya sendiri.
Hari pengumuman kelulusan tiba. Suasana di sekolah tegang. Semua siswa berkumpul di aula, menunggu nama mereka dipanggil. Rina merasa gugup. Ia berharap bisa lulus dengan nilai yang cukup untuk masuk ke jurusan sastra di universitas swasta.
Ketika namanya dipanggil, Rina merasa lega. Ia lulus dengan nilai yang memuaskan. Ia bergegas mencari Pak Hasan untuk berbagi kebahagiaannya.
“Tuan, saya lulus!” seru Rina gembira.
Pak Hasan tersenyum. “Selamat, Rina. Saya bangga padamu. Jangan lupa, kejarlah mimpimu.”
Rina mengangguk. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah menyerah pada mimpinya.
Sementara itu, Budi berdiri di sudut aula, menyaksikan teman-temannya merayakan kelulusan mereka. Ia merasa hampa. Ia berhasil meraih impian semua orang, tapi ia tidak bahagia. Ia tahu, ia harus segera mengambil keputusan.
Setelah pengumuman kelulusan, Budi menemui ayahnya. Ia mengatakan bahwa ia tidak ingin kuliah di jurusan teknik. Ia ingin melukis.
Ayahnya marah besar. Ia mengatakan bahwa Budi telah mengecewakannya. Ia mengancam akan mencoret Budi dari daftar keluarga.
Budi tidak takut. Dia telah mengambil keputusan. Ia rela kehilangan segalanya demi mengejar mimpinya.
Dengan berat hati, Budi meninggalkan rumah. Ia pergi ke Yogyakarta, kota seni yang terkenal. Di sana, ia belajar melukis dari seorang pelukis senior. Ia bekerja keras dan berjuang untuk mewujudkan mimpinya.
Beberapa tahun kemudian, Rina berhasil menerbitkan novel pertamanya. Novel itu mendapatkan sambutan yang baik dari para kritikus dan pembaca. Rina menjadi seorang penulis terkenal.
Suatu hari, Rina mengunjungi sebuah pameran seni di Jakarta. Di sana, ia melihat lukisan-lukisan yang sangat indah. Ia terpukau oleh salah satu lukisan yang menggambarkan pemandangan senja di pantai. Ia merasa seperti pernah melihat lukisan itu sebelumnya.
Dia mendekati lukisan itu dan membaca nama artisnya. Dia terkejut. Nama pelukisnya adalah Budi.
Rina mencari Budi di antara pengunjung pameran. Akhirnya, ia menemukan Budi sedang berdiri di dekat lukisannya.
“Budi?” sapa Rina.
Budi berbalik. Dia terkejut melihat Rina.
“Rina? Kamu di sini?” tanya Budi.
“Aku penggemar lukisanmu,” jawab Rina. “Lukisanmu sangat indah.”
Budi tersenyum. “Terima kasih. Aku senang kamu menyukainya.”
Rina dan Budi bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Rina menceritakan tentang kesuksesannya sebagai penulis. Budi menceritakan tentang perjuangannya sebagai pelukis.
Mereka berdua sama-sama bahagia. Mereka telah berhasil mewujudkan mimpi-mimpi mereka, meskipun dengan cara yang berbeda. Mereka membuktikan bahwa mimpi-mimpi itu berharga untuk diperjuangkan, meskipun terkadang harus menghadapi rintangan yang berat. Aroma kapur dan debu mimpi, ternyata, bisa mengantarkan mereka menuju kebahagiaan sejati. Sekolah, dengan segala dinamikanya, telah menjadi saksi bisu perjalanan mereka.

